Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Monday, September 19, 2016

Menikmati Purnama bersama Warkop di Pagi Hari

Bulan purnama bersinar terang dan tampak paling besar pada bulan September setiap tahunnya. Pada hari-hari itulah orang-orang Tiong Hoa merayakannya dengan memakan kue bulan atau Mooncake. Tanggal 16-18 September yang lalu, di kala sang purnama sedang cantik-cantiknya, orang-orang Bandung dihebohkan dengan pesta kuliner paling piknik, "Mooncake Festival" di Peta Park. Hujan tak mengurangi antusias warga Bandung untuk datang dan memborong kuliner yang dijual di sana.

Warga Bandung yang kreatif mengerahkan segala keterampilan mereka di bidang kuliner dan menggelarnya bersama-sama. Kitchen Delight, Babibubebo dan Elpaso dengan nasi campurnya yang laris manis, Siomay ci Acin dengan ham coi kon-nya, Indo Kombucha, Bolu gulung keju dan bapao panggang isi char sieu dari Amaro, aneka makanan vegetarian dari Vegetarian House yang hari ini sedang berulang tahun dan Kedai Putu yang meramaikan berbagai food trucks yang ada. Ducko Chan sebagai penggagas event ini bersama teamnya telah berhasil mewarnai perayaan Terang Bulan ini dengan sukses. Kelihatannya boleh tuh kalau diadakan setiap tahun!

Purnama ini layak juga dirayakan tanpa beramai-ramai. Berdua dengan anak laki-laki yang lahir saat bulan purnama 11 tahun  yang lalu, aku menikmati Purnama di pagi hari.Warung Kopi Purnama. Kami ke sana karena anakku ingin makan buburnya depan warung. Walau kami harus jalan dari gg.Suniaraja karena susah parkir di Alketeri, kami jabanin. Pagi hari yang sejuk sehabis hujan, menyusuri jalan basah dan mengamati kegiatan sepanjang jalan, mengasyikan juga. 



Mungkin sudah banyak pembaca yang pernah makan di warkop ini, bahkan para engkongnya pun sering kemari. Kalau roti SIDODADI dirintis th. 1954, ini lebih tua lagi. Tahun 1930 sudah ada. Nah kamu, tahun 1930 ada di mana?

Warkop Purnama ini adalah salah satu warung kopi tertua di Bandung. Didirikan dengan nama Chang Chong Se yang artinya Silakan Mencoba, yang kemudian diganti menjadi Warung Kopi Purnama pada tahun 1960-an di masa orde baru. Wah, salah satu saksi sejarah! Pendiri warkop ini ternyata bukan orang Bandung, Yong A Thong berasal dari Medan yang hijrah ke Bandung di awal abad ke-20.

Kini sudah 4 generasi yang mengelola tempat ini dan semoga terus berlanjut. Mereka juga mempertahankan cita rasanya dengan mempertahankan resep aslinya. Jadi apa yang kita cicipi kurang lebih sama dengan apa yang dicicipi nenek moyang kita. Isn't that cool? Kursi mejanya pun masih asli yang doeloe. Cobalah datang pagi hari, dan duduk di depan, daerah smoking area. Hiruk pikuk kaum bapak yang berkumpul, para ncek-ncek yang berkumpul bersama kepulan asap rokok mereka menyeruput secangkir kopi ditemani bubur ayam. Ah, otentik kali bah!


Suasana smoking area
Ini adalah jendela dapur tempat makanan diproduksi.
Kopi susu 14K pake jempol
 Kopi yang mereka sajikan khusus dibawa dari Medan dan digiling sendiri setelah disimpan sekian lama sampai aromanya kuat. Keluarga mereka menyimpan rahasia cara penggilingannya secara turun temurun sehingga kopi yang dihasilkan memiliki ciri khas tersendiri.

Selain terkenal dengan kopinya, roti sarikayanya pun menjadi favorit para langganan. Mereka membuat sendiri selai sarikayanya tanpa bahan pengawet, dengan gula merah yang bisa menyihir para pembeli sampai ketagihan. Mereka juga menjual selai sarikayanya jika kita ingin membuat sendiri di rumah.
Roti dadar terlur worst - 20K pake jempol juga
Bubur ayam 14k tanpa jempol
Kami salah strategi. Maksud hati menikmati bubur di roda depan warung, tapi kehabisan. Bubur terakhir dimenangkan oleh orang yang duduk di meja sebelah kami, padahal kami datang duluan. Seharusnya sebelum masuk Warkop Purnama, kami memesan dulu semangkuk bubur. Ah, kecewa. Kami memesan bubur ayam buatan warkop tapi tak seindah bubur roda depan. Ayamnya sedikit, gak ada cakue, rasanya hambar, dan harganya lebih murah. Kalau kita lihat foto berikut, ada dua tong besar yang sudah kosong di sebelah roda bubur, itu adalah bubur yang habis! Jam 9 juga belum, dua tong bubur sudah ludes. Siapa yang makan?!



Di sebelah tukang bubur ada tukang kue ape dan tukang bandros, tapi kami sudah cukup kenyang. Aku cuma numpang mengambil foto bandrosnya saja. Seijin penjualnya lho!

dedicated untuk yang rindu bandros

Kapan-kapan mau kemari lagi lebih pagi dan memesan bubur di depan. Membayar kesalahan strategi kali ini.

Catatan Kaki:

Warung Kopi Purnama
Jl. Alketeri 22
Jalan kecil sebelah hotel Golden Flower di Asia Afrika.
Ph. 022-4201841
IG : @warungkopipurnama
Buka mulai pk. 6.30 AM - 10 PM

Related posts:



Tuesday, September 13, 2016

Island hopping di Belitung, hari kedua.

Catatan hari pertama bisa dibaca di sini.

Pagi itu matahari bersinar indah. Saat yang tepat untuk pergi ke pulau-pulau sekitar Belitung. Salah satu high light nya liburan Belitung. Kalau kita traveling tanpa menggunakan jasa tour, sebaiknya kita booking perahu dulu di Pantai Tanjung Kelayang, sehari sebelumnya.

Sebelum berangkat, di perjalanan menuju Pantai Tanjung Kelayang, mampirlah dulu ke warung dan beli sebungkus malkist ROMA. Ini wajib ya. Mau sebungkus atau dua bungkus, terserah. Tapi harus bawa. Perjalanan menuju ke Tanjung Kelayang diwarnai dengan pemandangan rumah-rumah cantik khas Belitung.

Pk. 8.30 pagi kami berada di pantai indah berpasir putih halus bagaikan bedak. Menyenangkan sekali. Aji dan Firdaus yang akan mengantarkan kami dengan perahu, sudah menyiapkan life vest dan snorkling. Makanan untuk di pulau juga sudah dipesan di Rumah Makan Sian Lie.




Pantai Tanjung Kelayang ini memang dijadikan garis start sekaligus finish untuk berangkat island hopping. Mobil di parkirkan di depan tempat penyewaan perahu Sian Lie.



Dermaga di Pulau Kelayang menarik untuk difoto. Duh, jadi ingin balik lagi! Bermain Frisbee pun mengasikan di sini. Pasirnya benar-benar lembut! Pulau apa saja yang dikunjungi?


1. Pertama kita akan melihat PULAU BATU GARUDA alias KEPALA GARUDA. 


Kita hanya melewatinya saja. Dari kejauhan memang batunya mirip kepala burung.

2. PULAU PASIR.

Pulau pasir atau pulau gosong ini adalah pulau pertama yang kita kunjungi. Pulau ini hanya ada pada waktu surut. Waktu terbaik untuk berkunjung kemari adalah antara April - September karena lautnya surut dan ombaknya tenang. Jika kita ke sana di musim hujan, pulau pasir tenggelam dan tidak bisa dinikmati. Kitapun tidak bisa menyeberang ke Pulau Lengkuas.

So, another tips to go to Belitung. Pergilah di bulan April - September! 

 Di sini kita bisa mencari banyak bintang laut di dalam air. Species Choco chips starfish yang banyak ditemukan di sini. Jangan dibiarkan tidak terendam air terlalu lama ya, kasihan. Difoto-foto bersama mereka memang something really special, tapi sering-sering celupkan mereka kembali ke air.




3. SNORKLING di dekat PULAU LENGKUAS. 

Setelah berlama-lama di Pulau Pasir, kita langsung menuju Pulau Lengkuas dan snorkling dulu sebelum mencapai bibir pantai. Di sini letak keseruannya. SNORKLING! Sayangnya tidak disediakan penyewaan kaki katak di sini. Aku sudah siap memakai sendal gunung, lumayan untuk melindungi kaki agar tidak tergores karang.



Nah di tempat ini kita bisa memberi makan ikan-ikan dengan Malkist Roma yang kita beli tadi. Ikannya langsung datang menyerbu. Seru!


Photo by Dima55atria 

Snorkling di sini sampai puas deh. Asalkan alat snorkle nya enak dipakai, betah berlama-lama. Tapi kita juga harus memperhatikan jangan sampai terbawa arus terlalu jauh dari kapal. Buat yang tidak bisa berenang, bisa kok snorkling. Memakai life vest, tidak akan tenggelam. Kunci rahasianya adalah tetap tenang jangan panik, pelan-pelan belajar bernafas melalui mulut.

4. PULAU LENGKUAS 

Puas ber-snorkling bermain bersama ikan-ikan garis hitam putih, kami pun melanjutkan lompatan kami ke pulau berikutnya. Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya yang gagah. Dari Tanjung Kelayang hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit menuju Pulau Lengkuas ini tapi kami baru tiba di sana menjelang tengah hari, sekitar pk. 11.


Pulau ini cukup ramai dikunjungi orang. Primadonanya wisata Belitung. Ada yang berjualan di tepi pantai, sambil bersantai di bawah pohon. Anak-anak kecil enggan naik ke mercusuar, betah sekali berlama-lama bermain pasir padahal matahari sedang terik-teriknya. 


Mercusuar berlantai 18 ini dibangun tahun 1882 dan merupakan peninggalan Kolonial Belanda. Sayang sekali kalau kita tidak naik ke atas sana, selama lutut masih sehat ayolah coba masuk dan naik menuju ketinggian 65m.



Memasuki area mercuar ini kita diwajibkan melepaskan alas kaki yang berpasir dan membersihkan kaki dengan potongan busa agar pasirnya tidak terbawa masuk. Kita dikenakan bea masuk Rp. 5000,- dan tidak boleh membawa botol minum ke atas. Wajar sih, supaya tidak ada sampah yang ditinggalkan di atas. Kebijaksaan yang bagus.



Bau cat hijau masih tercium kuat ketika mulai menaiki anak tangga. Mungkin baru direnovasi. Kita bisa beristirahat di setiap lantai dan memandang keluar jendela. Bagusnya lagi, posisi jendelanya berubah-ubah tiap lantai sehingga kita bisa menikmati pemandangan yang berbeda-beda. Ada gaung yang membuat suara kita terdengar lebih merdu lho di dalam mercusuar ini. HAHAHA... tak pedulikan tamu lain mendengar atau tidak, aku menyanyikan lagu "The hills are alive with the sound of music... aaaaa...aaaaa..." makin naik lantai nadanya makin tinggi. HAHAHA. Yah, suara pas-pasan tapi kalau di dalam mercusuar mah lumayan alus lah. Suwer...




Bayangkan muka berambut kusut tanpa disisir dan basah sehabis snorkling, bernyanyi-nyanyi sambil menaiki tangga yang makin ke atas semakin mengecil. Nyebelin dikit lah ya. HAHAHA. Waktu turun tangga, kami sempat menghitung anak tangganya. Total ada 313 anak tangga.



Pemandangan di Pulau Lengkuas sangat indah. Air lautnya juga jernih. Snorkling di sana juga terlalu seru untuk tidak diulangi lagi. Tapi matahari sudah beranjak semakin tinggi. Perut harus diisi. Di bawah mercusuar, ada penjaganya yang memelihara penyu dan ikan nemo. Kasian sih sebenarnya, mereka bagus berada di laut daripada di dalam ember. Semoga mereka panjang umur. 

Sempatkan diri untuk berjalan-jalan di pantai sekitar pulau. Menaiki batu-batu granit abu-abu muda yang besar-besar dan berfoto di sana. Harus agak memanjat memang, tapi kan gak tiap hari kita di sana. Panjatlaaaah..... Kalau bukan awan mendung yang sudah berat menggantung yang memperingatkan kami untuk segera melanjutkan petualangan, mungkin kami masih betah menjelajah. Ayo lanjut!

5. PULAU GEDE KEPAYANG. 

Makan siang! AHA! Sudah banyak orang di sana. Restorannya penuh. Penuh orang Bandung Jakarta. :) Free flow teh, teh manis, dan kopi. Ada tempat bilas dan cuci kaki. Musik reggae khas pantai menghentak lewat speaker besar. Waaah asiknya, benar-benar seperti di pantai! Duh nanti ya, file foto-foto di rumah makan ini belum ketemu. Nanti kalau ada, aku susulkan. So far suasananya asik. Makanannya juga enak-enak. Ikan bakar pakai kecap bawang dan rawit, sate udang, udang kipas yang mirip lobster, cumi goreng tepung, gangan ikan (makanan khas Belitung). Gangan ikan ini adalah sop kuah kuning kepala ikan ketarap.


Free flow kopi atau teh di perahu ini. 
Picture by Ediputratama 



INTERMEZZO :
Kalau saja manusia bisa berojol langsung dari botol,
dan langsung gede ga pake jadi bayi lagi...
Mungkin ini yang dinamakan manusia botol, inovasi lanjutan dari bayi tabung.
Mereka tidak bisa menulis bagus, lantaran langsung bisa jalan, tanpa merangkak terlebih dahulu.
Mereka juga tidak punya ikatan dengan wanita yang disebut IBU,
atau mungkin terharu jika melihat botol BIG COLA 2lt karena mengira itulah sang bunda.
Mereka bukan generasi yang pernah lucu.
Begitu lahir, langsung dituntut mampu ini dan itu.
Sudah..sudah... tak perlu dilanjutkan.
Buang-buang waktu saja memikirkannya 

6. SNORKLING DI PULAU BABI 

Yeaaay snorkling lagi!! Karena snorkling itu sangat menyenangkan, dan awak kapal kami bersedia membawa kami untuk kembali snorkling, jadi kami happy. Pulau Babi bro! Sayangnya, pulau itu dinamakan pulau Babi bukan karena banyak piglets nya tetapi karena lautnya banyak BULU BABI. Aiiiisshhh... Tapi terumbu karang dan pemandangan bawah air di tempat ini lebih menyenangkan dan menegangkan dari sebelumnya di Pulau Lengkuas. Arusnya cukup kuat mengarah ke terumbu karang yang penuh bulu babi yang besar-besar sehingga kita harus terus mengayuh kaki melawan arus agar bisa stay di dekat perahu.



Menegangkan sangat karena jarak air tempat kita mengambang dengan terumbu karangnya sangat dekat sampai kaki harus terus ditahan di atas. Ya itu hanya awalnya saja. Perlahan-lahan hati mulai tenang, kakipun bisa berbahagia menjelajah keindahan bawah laut berbulu babi itu. Firdaus, crew kapal, sempat memotret kami memakai smartphonenya. Tapi hasilnya gak ada yang bagus. HAHA.. Aji, crew kapal yang lainnya, dengan sabar menemani anak bungsuku menikmati snorkling. Oh, by the way, ikan-ikan di sini berbeda. Mereka tidak suka malkist. Kue kita gak laku. Ah, aku suka deh di sini. Habitatnya lebih sehat tidak terpengaruh tangan manusia.


 Aji memegang bulu babi, berdiri di atas terumbu karang.

Menurut cerita pengalaman Aji, bulu babi dibelah dan makan mentah-mentah langsung oleh turis asing. Lupa dari mana, sepertinya dari Jepang ya, sashimi.

7. PULAU KELAYANG 

What a trip! Belum selesai nih ceritanya. Setelah lelah melawan arus dan menguatkan mental bercengkrama dengan bulu babi kami naik ke atas kapal. Kaki-kaki kami luka kena karang tapi kabar baiknya adalah kami masih punya satu pulau lagi untuk dijelajah. Route yang umum dalam island hopping biasanya ke Pulau Batu Berlayar, tapi kali ini kami ditawarkan ke Pulau Kelayang. Kami setuju karena di sana ada goa. Lain dari yang lain.


Banyak burung camar di batu granit putih yang besar itu. Suaranya terdengar sayup di kejauhan. Pulau tak berpenghuni ini sepi dari pengunjung, serasa milik pribadi. Asik sekali. Peaceful setelah hingar bingar suasana pulau-pulau sebelumnya. Perjalanan dari pulau ke pulau ini ditutup dengan manis. Benar-benar tenang. Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Kami diajak masuk menjelajah ke tengah pulau.




Batu-batu granit yang sangat amat besar saling berhimpitan seperti goa, ada di dalam sana. Wah benar-benar pengalaman unik. Di dalam sana bisa tembus ke bibir pantai sehingga air laut masuk ke dalam goa tersebut. Banyak kepiting kecil, ikan-ikan dan juga mahluk laut lainnya yang aneh-aneh di sana. Kalau di google map, pulau ini tepat di sebrang Pantai Tanjung Kelayang. Lebih dekat dibandingkan pulau Batu Berlayar. Tapi kami tetap bersyukur karena memilih tempat sepi ini. Lain kali mau ke sana lagi, tapi mau ke Batu Berlayar juga.

Perjalanan hari itu menyenangkan, menegangkan dan melelahkan tapi memuaskan. Baru dua hari di Belitung sudah sangat excited. Kami pulang pada saat matahari hampir terbenam. Tiba di pantai Tanjung Kelayang masih cukup terang dan mandi di dekat tempat parkir. Segar, bersih, asik!

Catatan Kaki:

Persiapan ke pulau ini: 
- bawa handuk, sabun, shampoo, baju ganti, air minum secukupnya.
- langsung merangkap baju renang dari hotel atau bisa juga ganti baju di tempat penyewaan perahu.
- kalau ada, pakai sandal gunung atau bawa kaki katak.
- bawa tensoplast dan betadine, snorkling hampir selalu meninggalkan luka. (awwww...)

Booking perahu dan makan siang di Sian Lie
Ph. 0819 2962 8699
Harga perahu : 350-650k tergantung perahunya.
Sewa snorkle dan life vest.

Kalau mau crew kapal yang menyenangkan dan sabar menemani nyemplung,
hubungi Aji 0819 2952 4924 atau Firdaus 0819 4915 5157

Rombongan kami 8 orang, total budget island hopping plus makan plus tips 262.5k per orang (makan foya-foya).

8. MAKAN MALAM DI RUMAH MAKAN DYNASTI 

Setelah puas segala-galanya di siang hari, kami menutup malam hari dengan makan besar lagi. HAHA


Rumah makan Dynasti ini salah satu Rumah Makan terbesar di Belitung. Waktu kami ke sana, ada pesta pernikahan yang hampir selesai. Unik lho, tamunya tinggal segelintir tapi live musik lagu-lagu mandarin jadul dan jogetnya masih ada. Seperti pesta-pesta pernikahan Tiong Hoa tempo doeloe loh. Ajaib. Serasa masuk time machine 30 tahun ke belakang.

Sup baso ikan, kepiting isi, kepiting saus padang, porsinya besar. Memory card handphoneku mendadak crash karena merekam reportase makan malam di sana :( Kami memesan makanan yang kelihatan enak, dan semua enak-enak. Makan sampai susah berjalan. Ooops. Kami membayar per orangnya Rp. 93.000,- Memang cukup mahal untuk backpacker.

Catatan Kaki: 

Rumah makan Dynasti
Jalan Dr. Susilo 39 Belitung
Ph. +62 8192 553 557



Related Posts:

Sarapan Pagi di Belitung
Batu Mentas, wisata tersembunyi di Tanjung Pandan
Liburan Impian, Belitung Hari Pertama
- Menyiasati Hujan di Belitung, hari ketiga
Lebih dekat dengan penduduk Belitung
Pantai Tanjung Pendam, apa yang kau pendam?

Saturday, September 10, 2016

Makan Kekinian di Warung Hipster


Sekali lagi dari Bandung, Warteg dengan free wifi dan tempat yang modern di jalan Bahureksa. Cara marketingnya kreatif dan menarik sehingga kehadirannya langsung melejit. WARUNG HIPSTER namanya.

Pertama buka di bulan Agustus 2016 mereka pakai cara BAYAR SERELANYA, hari Minggu lalu kami coba ke sana pk. 16.00 udah sold out dan tutup. Jagoan ya.

Nah kali ini kesampean juga menyambangi tempat makan kekinian di Bandung ieu.

Tanpa basa basi, langsung saja ke harganya!

Makan bertiga Rp. 58000,-

What do you think?

Ada free wifi, tapi nggak sempat nge-wifi. Kami makan dan mengobrol saja bertiga.


Terong balado (enaaak), karamel ikan asin (enaaaak) dan 1 kulit (buat bagi ke anak-anak)
Rp.14.500 - Mine~~



Ini anak bungsu dibiarkan milih sendiri, milihnya banyak! HAHA
Sayur buncis, ceplok telor, perkedel dan ayam bakar
Rp. 23.500,-


Sayur buncis telur (enak tapi telurnya sedikit), kentang kering dan rendang
Rp. 20.000,-
Untuk pembelian lebih dari 20k mendapatkan 1 nasi bungkus. 


Minumnya gratis, free flow. Setiap orang diberi satu gelas kosong ketika membayar lunas. Ada 3 macam : air putih, teh panas dan infused water. Es batu disediakan di samping tempat minuman, satu box besar. Ambil sendiri semuanya. Toiletnya bersih dan kreatif juga nih.



Satu hal yang  menarik, mereka memajang juga foto foto nasi bungkus yang dibagikan kepada masyarakat kecil sekitar Bandung. So, ketika mereka memberikan nasi bungkus gratis, otomatis terpikirkan untuk melakukan hal yang sama. Makan kenyang bersama anak-anak, pulangnya menyempatkan diri memberikan nasi bungkus gratis nya kepada ibu penjual tisue asongan di perempatan lampu stopan.


Everybody is happy. Bukan cuma pemilik usaha wartegnya, ataupun kami yang makan enak dan kenyang, tapi juga ibu penjual tisue. Bahagia itu akan berlipat ketika kita membagikannya. Pengalaman yang menyenangkan.

Thank you buat inspirasinya, Warung Hipster. Sukses selalu! Semoga harganya tetap seperti ini, jangan makin lama makin mahal. :)

Catatan kaki:

Warung Hipster
Jl. Bahureksa 5
Bandung
Buka pk. 10 AM - 10 PM



Friday, September 9, 2016

Liburan Impian, Belitung Hari Pertama

Belitung hari pertama 03/03



Pada dasarnya, liburan ke Belitung itu sangat terjangkau. Lebih murah dari Bali tapi pemandangannya berani diadu. Sayangnya belum ada pesawat yang langsung terbang dari Bandung. Tiket pesawat Sriwijaya harganya antara 350-475rb sekali jalan.  Makannya? Bisa diatur! Banyak yang murah tapi enak. Rata-rata 20-25rb juga sudah memuaskan. Es jeruk kunci terus tiap makan juga seharga Rp. 7000,- gak perlu mahal-mahal. 

Aku akan menuntaskan cerita pengalaman hari pertamaku di Pulau Belitung ini, siapa tahu bisa menjadi bahan acuan untuk rencana perjalanan pembaca nanti.

Hari pertama:

1. Tiba di Bandara pk. 7.30
2. Sarapan pagi di Bakmie Acoi (non Halal)
3. Bermain di sungai Batu Mentas (30 menit dari Tanjung Pandan)
4. Makan siang di Mie Atep

Kalau kamu perhatikan, hampir semua itinerary ada Mie Atep di dalamnya. So, I think it's a must to try Mie Atep at Tanjung Pandan. Tempatnya di jalan Sriwijaya, dekat Bundaran Batu Satam again. Iya, dekat Warung Mak Jannah.



Saking bekennya, Mie Atep ini disebut juga Mie artis loh. Di dindingnya banyak dipajang foto-foto artis yang pernah ke sana dan berfoto sama Encim penjualnya, termasuk Ibu Megawati. Seperti apa rasanya? Lihat dulu penampakannya lah ya...



Kuahnya kental, coklat, mirip lomie nggak, mirip kuah ambokue juga nggak. Ini kaldu udang, pakai gula aren, dan bumbu lainnya. Jadi rasanya manis-manis gitu deh. Mie kuning ini ditemani segerombolan tahu, kentang rebus, toge, timun dan emping. Baca dari berbagai referensi sih banyak yang bilang rasanya segar, enak, nagih, tapi buat kami sih cukup untuk sekedar nyoba deh. Sorry to say. Gak terlalu special dan gak ngangenin. Kami datang ber 8, pesan dua porsi dan sharing makan saling nyoba, gak ada yang mau nambah. Kalau soal harga, seporsi dibandrol Rp. 15.000,- Isinya gak terlalu banyak, kalau lagi lapar mungkin gak kenyang. Tapi kalau untuk nyoba makanan khas daerah sana sih, okelah. :)  

Lanjut yuk!  


5. Check in ke hotel BW Suite. 


Hotel di Belitung banyak pilihan, bisa disesuaikan dengan kesejahteraan celengan kita. Sepengetahuanku hotel berbintang 4 hanya BW Suite saja di tahun 2016. Entah di tahun-tahun mendatang. Harganya pun masih lebih murah dari hotel terkenal di Pangandaran.




Hotel BW Suite hotel sebelumnya bernama Aston Belitung. Kamarnya besar dan bersih, kasur dan bantalnya enak. Disediakan hairdryer, pemanas air minum lengkap dengan teh dan kopi. Kamar mandi di kamar mamaku sih airnya menggenang agak lama surutnya tapi mama juga gak mengeluh apa-apa tuh. Berarti masih acceptable.



Kami memesan kamar deluxe agar mendapat balkon dan sea view, ceritanya biar bisa menikmati sunset di sana. Thank God saat kami booking ada promo Rp.200.000,- per nama. So, kami menghemat Rp. 600.000,- deh buat 3 kamar karena book dengan nama yang berbeda-beda. HAHA.. hanya saja check in nya nunggu satu-satu. Lama bener deh. Tapi kan 600rb nya bisa dipake makan foya-foya di pulau Kepayang! Hore! 


Sunset dari lt. 3 hotel


Yang kudapatkan dari pengalaman berada di Belitung selama 5 hari, kita tidak perlu ngotot memilih hotel di tepi pantai Tanjung Pendam. Why?

1. Pantainya tidak untuk berenang, tidak ada ombak dan surut almost all the time. 

2. Sunset di Tanjung Pendam nggak sempat dinikmati karena faktor cuaca, faktor jadwal yang tidak mengkondisikan nongkrong di hotel saat sunset.

3. Belitung bebas macet! That's the very thing my kid missed Belitung so much. Kemana-mana dekat dan lancar. Jalannya besar dan mulus. Bebas lubang.


Yang jelas BW Suite ini adalah salah satu hotel favorit di Belitung. Kami bertemu banyak teman orang Bandung pada saat breakfast di sana. BANYAK! Di Bandung jarang ketemu, tau-tau makan pagi bareng di Belitung. 

Breakfast hotelnya enak dan gak bosen sih buat aku mah. Mulai dari bubur, heavy meals seperti nasi prasmanan, sup, roti dan kue-kue, cookies, antrian omlette, buah, salad, kopi teh dan jus.

Aku suka sekali memotong roti soft baguettenya, lalu dimasukkan ke toaster, dioles butter dan ditabur keju (minta ke stall omelette). SUKA SEKALI ituuuuh. 

Di kamar disediakan 3 butir Choco chips cookies juga loh, so sweet ya! 

Sekitar pk. 15.00 kami berangkat ke destinasi yang ditunggu-tunggu...


6. Pantai Tanjung Kelayang

Di perjalanan menuju pantainya Laskar Pelangi, kita melewati pantai Tanjung Kelayang. Kalau kamu berangkat sendiri tanpa tour, sebaiknya kamu ke tempat ini dulu untuk memesan kapal dan makanan untuk island hopping ke Pulau Lengkuas dll. 

Di sebelah kanan sekitar Pantai Tanjung Kelayang ada papan nama : Sian Lie. Masuk ke jalan itu, nanti kita akan tiba di tempat penyewaan perahu dan restoran Sian Lie.

Kami memesan perahu yang mesinnya di dalam, ukurannya yang cukup besar. Ada juga yang kecil dan mesin di luar hanya katanya sih lebih pelan jalannya. Selain itu, kita juga perlu memesan makanan untuk makan siang di pulau Gede Kepayang, supaya begitu makan siang sudah tersedia makanan di restoran sana. Well planned well prepared. You can do it!

By the way, pantai Tanjung Kelayang ini indah! Belum ke pantainya Laskar Pelangi sudah nyantol di sini susah move on. HAHAHA. Pasirnya putih seperti bedak. Ada dermaganya pula untuk foto-foto. Pantai ini memang khusus untuk penyebrangan ke pulau-pulau. 

Aku dan adikku sudah bercita-cita, harus berangkat lebih pagi besok ke mari, untuk difoto-foto di dermaga. Pasti cantik!

Catatan kaki:

Rumah makan dan penyewaan perahu Sian Lie
Pantai Tanjung Kelayang
Ph. 0819 2962 8699

Harga sewa perahu: 450k-650k termasuk snorkle dan life jacket. Rombongan kami 8 orang.
Pesan makanan bisa milih menu dan disesuaikan budget.
Kami memilih foya-foya dengan udang kipas, ganggan ikan, ikan bakar, udang bakar, cumi goreng tepung. Kecapnya enak banget. 
Total budget per orang Rp. 262.500 sudah termasuk perahu, tips, dan foya foya. Phew! 

Kami mendapat awak perahu yang ramah, baik dan juga sangat reccomended. 
Coba kontak Aji 0819 2952 4924
atau Firdaus 0819 4915 5157


7. Pantai Tanjung Tinggi

Jarak dari Tanjung Pandan hanya 30 menit. Dari tempat parkir mobil, kita harus berjalan beberapa puluh meter. Pantainya tersembunyi di balik batu-batu yang super besar, GILA. 








Kita harus melalui sela-sela batu besar itu untuk menemukan kejutannya.


INDAH. SUPER INDAH. BREATH TAKING. REALLY REALLY REALLY GREAT BEACH AI TEL YU!!!

Sepertinya gak pernah aku menemukan pantai dan merasa sangat surprise akan keindahannya selain di pantai Tanjung Tinggi.

Sekali lagi yang mengherankan di Belitung, SEMUA PANTAINYA TANPA OMBAK. Aneh sih rasanya. Biasanya pantai itu asik mendengarkan suara ombak. Ada yang hilang. Tapi pesona Pantai Tanjung Tinggi mampu menyapu bersih segala kesan negatif.
Untungnya bersih! Cukup terawat dan baik pengelolaannya.

Bagus banget, betah berlama-lama di sana. Panas? Nggak! Mungkin karena sudah sekitar pk.16. Tidak ada panas yang menyengat, sempurna sekali. Sudahlah tak perlu banyak bicara lagi, lihat fotonya saja.

Kami berada di sana hingga matahari terbenam. Sunset pertama di hari pertama, terimakasih Tuhan.


Catatan Kaki:
- Di sini jarang ada orang yang memakai baju berenang. 
- Aktivitas utamanya berfoto-foto. KALAP!
- Jarang ada yang berendam atau nyemplung. Jadi tidak perlu bawa baju renang.
- Pantainya untuk berenang dan menikmati permainan pantai ada di pantai yang tidak berbatu. Bisa sewa perahu karet yang cukup besar, Rp. 50.000
Tiket masuk Pantai Tanjung Tinggi aku lupa berapa, terlalu excited sampai tidak memperhatikan harus bayar tiket. Sibuk mengagumi ini dan itu. Mungkin mamaku yang bayarin. hahaha.. tapi yang aku baca sih tiketnya Rp. 2000,- per orang. Parkir gratis sih setahuku. 

7. Makan malam di Rumah Makan Diva

Puas main, puas motret, baru ingat perut minta dipuaskan juga. Kami memilih Rumah makan Diva di jalan Sriwijaya dekat KFC. Harga bersahabat, puyunghai kepiting, nasi goreng, kwetiau goreng, semuanya enak. Es Jeruk Kunci juga wajib. Makan foya-foya di sana merogoh kocek 350rb untuk 8 orang. Kalau mau irit-irit masih bisa 20-25rb per orang deh.
Catatan Kaki:

Rumah Makan Diva
Jalan Sriwijaya 123, dekat KFC dan ATM BCA.